Peneliti: Pilpres 2009 Kemungkinan Hanya 2 Calon:
Senin, 22 Desember 2008
Jakarta (ANTARA News) - Peneliti senior dari Reform Institute, Zaim Zaidi,
memperkirakan pemilihan presiden 2009 hanya akan diikuti oleh dua pasangan calon
presiden dan wakil presiden.
"Dengan syarat pengajuan pasangan calon sebesar 20 persen suara atau 25 kursi
DPR RI, maka kemungkinan hanya akan muncul dua calon, yaitu Susilo Bambang
Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri," katanya di Jakarta, Senin.
Pendapat Zaim tersebut disampaikannya dalam jumpa pers Reform Institute soal
hasil survei tentang pandangan masyarakat terhadap kepemimpinan nasional dan
partai politik.
Namun, ujar Zaim Zaidi yang didampingi Direktur Eksekutif Reform Institute, Yudi
Latief, kemungkinan munculnya tiga calon bisa terjadi jika partai-partai baru
meraih suara signifikan kemudian bergabung memunculkan satu nama capres.
Menurut dia, satu calon presiden yang berpeluang besar untuk bersaing dengan SBY
dan Megawati adalah Prabowo Subianto, yang kini menjadi Ketua Dewan Pembina
Partai Gerindra.
"Prabowo bisa maju dengan catatan berkoalisi dengan Soetrisno Bachir (Ketua Umum
PAN) dan partai-partai baru lainnya," katanya.
Jika ada tiga pasangan capres/cawapres yang maju dalam Pilpres 2009, kata Zaim,
diperkirakan akan ada dua putaran pilpres.
Zaim Zaidi juga berpendapat, Prabowo Subianto bakal menjadi "kuda hitam" pada
pilpres mendatang, jika berhasil maju sebagai capres.
Mengenai peluang Sri Sultan Hamengku Buwono X, Zaim Zaidi menilai, peluangnya
sangat kecil untuk bisa maju sebagai capres karena Sultan tidak mempunyai "kendaraan
politik" yang kuat.
"Dicalonkan oleh Partai Golkar juga sulit. Kemungkinannya, Sultan itu bisa
menjadi orang kedua," katanya.
Survei yang dilakukan Reform Institute menunjukkan, sebanyak 39,7 persen
responden menyatakan tetap akan memilih capres di 2009 sesuai dengan pilihannya
saat ini (tidak berubah dan sebanyak 57,82 persen responden menyatakan
pilihannya masih akan berubah.
Terkait dengan itu, Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latief mengatakan,
untuk mengubah 57,82 persen pemilih yang masih bisa berubah itu, maka
parpol-parpol harus bisa meningkatkan "marketing politik"-nya.
"Parpol harus bisa membuat iklan atau kampanye dengan menampilkan isu-isu
politik yang menarik dan dapat diterima oleh masyarakat terutama di pedesaan,"
katanya.
Yudi Latief juga menilai, naiknya peringkat Partai Demokrat menjadi urutan
teratas partai pilihan pemilih, tidak lain disebabkan karena program dan
kebijakan pemerintahan pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga
Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.
Sejumlah kebijakan dan program pemerintah, katanya, telah mencapai masyarakat
bawah hingga ke tingkat pedesaan seperti bantuan langsung tunai (BLT) dan
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, serta kebijakan
menurunkan harga BBM.(*)